Camp NaNo: Introduksi & Prep

Countdown menuju hari-H: 4.

Hiya! Tinggal empat hari tersisa sebelum Camp NANOWRIMO resmi dimulai. Apa sih Camp Nanowrimo itu? Mungkin beberapa di antara kalian ada yang udah familier dengan istilah Nanowrimo. Nanowrimo itu sendiri berarti National Novel Writing Month. Walau namanya “national” dan pertama kali diadakan di San Fransisco, USA, ‘tapi Nanowrimo bisa diikuti secara internasional, kok!

Jadi sebetulnya Nanowrimo itu apa?

Nanowrimo adalah sebuah event yang berlangsung selama 30 hari, sepanjang November. Selama satu bulan itu, partisipan ditantang untuk menulis sebuah novel sepanjang 50.000 kata. Wow! Lima puluh ribu kata? Per hari? Betul! Saya tahu kedengarannya mengerikan, (tahun lalu saya cuma sanggup menulis total 14.316 kata, jauuuuhh banget dari target) ‘tapi saya punya dua alasan kenapa kamu enggak harus takut sama target 50.000 kata dalam 30 hari itu:

  • Dari estimasi 500.000 partisipan Nanowrimo November 2016 lalu, sebanyak 4.146 (empat ribu seratus empat puluh enam) partisipan berhasil melampaui target 50.000 kata. Harap diingat, kebanyakan partisipan Nanowrimo adalah pelajar, karyawan kantor, mahasiswa, dan penggelut berbagai profesi lain yang enggak bisa menulis secara full time. Metode mengejar target word count tiap partisipan beda-beda, ada yang mencicil sedikit-sedikit pada hari kerja lalu mengejar sisanya selama akhir pekan, ada yang mengkhususkan akhir pekan untuk menulis, dan lain-lain. Pokoknya, whatever floats your boat. Dan kalau kamu enggak bisa memenuhi 50.000 kata itu pun, kamu punya lebih dari 495.000 rekan seperjuangan yang sama-sama belum berhasil. :-)))
  • Percaya atau enggak ‘tapi 50.000 kata itu bukan kewajiban. Yeah, sure, situs Nanowrimo sendiri menetapkan 50.000 kata itu sebagai syarat minimum kamu bisa ditetapkan sebagai pemenang dan kamu bisa mendapat badge bertulisan WINNER! di ceritamu, ‘tapi kamu enggak gagal hanya karena kamu enggak berhasil menulis 50.000 kata dalam 30 hari. Kayak yang selalu staf Nano tekankan tiap mereka mengadakan write-in: berapa pun jumlah kata yang berhasil kamu tulis, jumlahnya tetap lebih banyak dari jumlah kata yang kamu punya sebelumnya. Bukan masalah kamu “cuma” berhasil menulis 87 kata — kamu udah lebih dekat 87 kata dengan targetmu.

Kamu bisa mempelajari tentang Nanowrimo lebih jauh di sini atau klik di sini untuk membaca sejarah (epik) Nanowrimo selama hampir 18 tahun.

Oke, aku udah ngerti. ‘Tapi ini ‘kan belum November. Apa beda Camp Nano dengan Nanowrimo?

Selain perbedaan waktu acara (Camp Nano diadakan setiap bulan April dan Juli sementara Nanowrimo hanya bulan November), Camp Nano punya fleksibilitas yang enggak Nanowrimo miliki. Mulai dari kebebasan memilih target jumlah kata (tiga puluh? Lima ratus? Tujuh ribu? Satu juta?) sampai kebebasan memilih proyek (revisi novel Nanowrimo? Naskah film? Kumpulan puisi? Cerita pendek?). Selain itu, di Camp Nano kamu akan ditempatkan di kabin, tempat di mana kamu bisa berkumpul dengan penulis-penulis lain dan saling menyemangati sambil mengejar target masing-masing.

Kamu bisa bikin kabin privat untuk dirimu sendiri dan teman-temanmu — pokoknya selama jumlah kalian enggak lebih dari 20, sabeb. Atau kamu bisa membiarkan Camp Nano memilihkan kabin untukmu secara acak. Bisa juga kamu mengeset pengaturan kabin supaya kamu dimasukkan ke kabin dengan orang-orang yang memiliki target, genre, ataupun berasal dari wilayah yang sama.

Enggak suka prospek menulis bersama orang asing ‘tapi enggak punya teman sesama penulis untuk bikin kabin sendiri? Kamu juga bisa menolak undangan ke kabin selama masa camp.

Kamu bisa baca-baca tentang Camp Nano lebih jauh di sini atau klik ke sini untuk mendaftar.

Tertarik ikutan? Saya punya dua back story yang mau saya bagi sama kamu.

Back story #1.

November 2016 adalah pertama kalinya saya ikut event Nanowrimo. Sebelumnya, saya udah pernah dengar istilah itu, meski enggak yakin kapan dan dari mana. Dulu saya kira Nanowrimo berarti National November Writing Month karena diadakan pada bulan November. Nonetheless, saya baru benar-benar cari info soal Nanowrimo beberapa minggu sebelum masuk November.

Seperti yang udah sempat saya sebut sebelumnya, selama tiga puluh hari tanpa hal lain yang saya lakukan selain menulis, saya “cuma” berhasil menulis beberapa belas ribu kata. Itu pun dari dua cerita yang sama-sama enggak tamat. I know, shameful. Saya berencana untuk melanjutkan salah satu dari dua cerita itu — karena saya udah lebih waras dan mawas diri — pada bulan Desember.

Spoiler alert: Enggak satu pun cerita yang saya garap saat Nanowrimo berhasil move on dari bulan November.

Nopey nope. Saya justru mengerjakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang menjadi cikal bakal calon proyek Camp Nano saya. (Yang, in all fairness, sebenarnya sama sekali enggak direncanakan untuk Camp Nano.)

Tanggal 20 bulan Desember tahun 2016 — enggak perlu terkagum-kagum, saya dulu rajin ngasih tanggal ke lembar brainstorm — berkat keranjingan saya pada Castle saya jadi terpikir sebuah konsep cerita tentang polisi dengan twist: bagaimana kalau para penegak keadilan dan hukum ini … mati?

Lebih spesifiknya: mati dan enggak bisa keluar di bawah sinar matahari.

Wah, udah tahu dong ya, saya bahas apa. ( ͡° ͜ʖ ͡°)

(Iya maap selain Castle saya juga keranjingan kaomoji.)

Desember 2016 menandai saat saya mulai mencorat-coret kertas HVS kosong dengan sketsa tokoh, denah polsek (atau unit), jumlah anggota, spesialisasi tiap anggota, bahkan nama polsek dan institusi yang mengendalikan mereka. Setiap malam, pagi, atau siang waktu rumah kosong saya bakal mondar-mandir dari ruang makan sampai ruang depan melewati ruang TV dan balik lagi membayangkan skenario dalam cerita. Saya membayangkannya seperti sebuah film (atau serial TV): lift berdenting, tokoh keluar dengan segelas kopi (yang kemudian mitra seniornya rebut), lalu masuk ke ruangan kapten untuk melapor dan diberi tugas baru.

Saya bahkan buat naskah skenario amatir demi mengeluarkan adegan itu dari kepala!

Namun, setelah dua halaman, saya stuck. Saya kebayang awalnya, ‘tapi saya enggak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Jadi mulailah saya corat-coret di kertas HVS lagi. Eh, apa justru saya ketik lalu gagal dulu baru mulai brainstorm di kertas HVS, ya? Ya, pokoknya begitulah. Berhubung saya belum pernah melakukan brainstorm ataupun world building untuk cerita fiksi sebelumnya, saya cari artikel di Internet: How to world build. World building checklists. What to write when doing world building. Kamu ‘ngertilah gambarannya.

Silakan klik di sini, sini, atau sini untuk melihat beberapa artikel yang saya simpan di bookmark.

Kita percepat dua bulan kemudian: di bulan Februari saya kebanyakan berkutat dengan sejarah dunia fantasi saya. Well, memang bukan “dunia” per se, karena cerita saya bergenre urban fantasy. Berbeda dengan Lord of the Rings, cerita ini memiliki seting di dunia sini, masa kontemporer ini, cuma fantasinya adalah eksistensi beberapa makhluk mitos dan/atau supernatural. Berdasarkan indeks yang saya tuliskan di halaman depan bundel HVS saya, ada sekitar 33 halaman. Namun, jika dihitung bersama halaman-halaman yang saya tolak, rombak habis-habisan, atau bahkan isinya enggak bisa diselamatkan, mungkin jumlah pastinya lebih dekat ke 50 halaman.

Dan, sekadar info saja ya, itu belum termasuk cerita yang akan saya garap.

(Momen hening sejenak, dan ….)

He-eh! Saya ngaku, saya habiskan seenggaknya dua bulan untuk sesuatu yang bahkan sekitar 80%-nya enggak akan muncul di cerita! Oh no, call the cops!

Terlalu berlebihan? Iya? Oke. Percaya atau enggak, ketika saya sadar bahwa saya enggak akan menggarap materi yang ini, kurang-lebih begitulah reaksi saya. Diikuti tawa nestapa orang yang telah menyia-nyiakan dua bulan lebihnya. (Or not. Yang barusan lebih pada comical purpose. Saya enggak percaya ide dan materi apa pun yang keluar dari kepala seorang kreator adalah penyia-nyiaan. Sesuatu hanya jadi sia-sia kalau diabaikan dan dibuang. O-ow, sekarang saya udah jadi terlalu serius dari imej yang mau saya tampilkan. Mari kembali ke imej utama.)

Setelah saya tahu bahwa adegan pembuka yang terus berulang di kepala saya itu terlalu mengawang- awang dan enggak bisa dikembangkan jadi sebuah cerita yang paripurna, saya berpaling pada kakaknya.

Back story #2.

Oktober 2015 saya merilis sebuah antologi berjudul This Is Helloween di Wattpad. Cerita terakhirnya berjudul Epilog/Prolog, dan di akhir cerita saya menggantungkan ending dengan janji sebuah sekuel. Sampai akhir 2016 saya belum bisa memenuhi janji tersebut. Adegan pembuka si polisi-dengan-kopi-yang-mungkin-bukan-kopi itu masih berada di universe atau dunia yang sama dengan Epilog/Prolog, jadi saya pikir …

… kenapa enggak?

Ya, kenapa enggak? Saya melewati dua pulau hanya dengan sekali mendayung: saya penuhi janji saya sekaligus kembali menulis. I mean, what’s the big deal, right? Saya udah pernah menamatkan dua novel sebelumnya, keduanya tanpa persiapan berarti apalagi sampai riset rumit tentang manusia purba atau pemujaan praagama.

Wrong.

Sejauh ini, butuh dua versi sinopsis dan total lima subversi sampai saya benar-benar mendapat gambaran solid untuk cerita ini. Itu pun masih ada kemungkinan terjadi perubahan, meski sejauh ini saya rasa kemungkinan terbesar hanya perubahan minor seperti detail yang ditambahkan. Dan — ya Lord — setiap kali teringat bundelan kertas (terpisah dari bundel sebelumnya) dengan halaman-halaman yang dipenuhi tulisan dan berlembar-lembar kertas lain yang menunggu untuk diisi saya merasa kombinasi aneh gugup, bersemangat, dan agak bergairah.

Um … ya, saya udah bilang kombinasinya aneh.

Saya enggak terlalu suka membicarakan tentang menulis yang sebetulnya aneh karena: 1) saya secara frekuen memberi update progres menulis saya di Twitter; 2) blog ini blog tentang tulis menulis! Saya mau bicara apa kalau bukan tentang tulis menulis? But anyway, saya enggak terlalu suka membicarakan tentang menulis karena saya mendapati diri seringkali besar mulut dan ibarat menggenggam pasir, konsistensi saya dalam menulis terlepas begitu saja.

Namun, ini memasuki minggu ketiga saya dalam perkara konsistensi, Camp Nano akan dimulai empat hari lagi, dan saya sama sekali enggak berniat slipping down the slippery slope lagi. Nopey nope. Karena itulah saya menulis blog ini. Fellow writers, apa di antara kalian ada yang hendak mengikuti Camp Nano? Adakah yang merasa takut, berdebar-debar, ragu, atau kombinasi ketiganya?

Saya iya. Dengan saya menulis blog ini rasanya nyaris seolah Semesta telah mengecap saya dengan tulisan besar [DIJAMIN GAGAL] ditambah keterangan Tidak pernah belajar dari pengalaman; terlalu sesumbar perkara menulis. Itu adalah perasaan takut. Selagi saya melirik ke kanan pada jejeran buku dan map yang berisi bundelan fondasi cerita saya, saya terbayang perasaan menggoreskan pensil di atas kertas. Sedramatis kedengarannya, perasaan itu bikin saya merasa seperti manusia utuh. Lalu ada perasaan terakhir, keraguan yang terngiang, Gue bisa gak ya? Waktu itu aja gagal; ditinggal di tengah jalan. Apa bedanya dulu sama sekarang? Yakin mampu?

Kalau ada di antara kalian yang merasakan perasaan yang sama, percayalah: setiap hari di tiap belahan dunia, ada seorang penulis yang berhasil menamatkan buku, antologi puisi atau cerpen, atau naskah filmnya. Dalam waktu sebulan-dua, saya akan jadi salah satu di antaranya. Kamu mungkin bisa membalap saya.

Camp Nano tinggal hitungan hari lagi. Apa kalian siap? Saya siap. Semoga kita semua bisa keluar dalam keadaan utuh di akhir April nanti. ( ಠ _ಠ)

Iklan

2 respons untuk ‘Camp NaNo: Introduksi & Prep

Apa pendapatmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s